Langsung ke konten utama

Opini Singkat Konflik Israel Dan Palestina

Sebelum memulai tulisan yang super pendek ini, penulis mengucapkan selamat atas terpilihnya Indonesia menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB pada hari Jumat tanggal 8 Juni 2018. Berdasarkan referensi dari berbagai sumber surat kabar arus utama, tugas Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap DK PBB merupakan yang keempat kalinya dan kali ini Indonesia akan mengemban tugas selama 2 tahun ke depan bersama dengan Republik Dominika, Afrika Selatan, Jerman dan Belgia; serta 5 anggota tidak tetap lainnya dan 5 anggota tetap DK PBB (Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris dan Perancis). 

Inilah saatnya Indonesia beraksi kembali untuk dunia internasional di tengah banyaknya ketegangan-ketegangan dalam dunia internasional. Perjuangan memperoleh tugas internasional sebagai anggota tidak tetap DK PBB menurut penulis merupakan salah satu peran Indonesia sesuai amanat pembukaan UUD 1945, yakni ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. 

Menarik, menurut penulis, di tengah ketegangan antara Israel dan Palestina, Indonesia diharapkan akan berperan lebih besar dalam menciptakan perdamaian abadi di bumi Palestina. Semoga saja keikutsertaan Indonesia selama 2 tahun ke depan sebagai Anggota Tidak Tetap DK PBB membuahkan hasil yang manis, yakni selesainya konflik dan munculnya perdamaian abadi di bumi Palestina. Sehingga, tidak kita dengar lagi pelanggaran-pelanggaran HAM di sana.

Menurut hemat penulis, perundingan dan diskusi adalah langkah yang tepat dan bijak dalam menyelesaikan konflik, terutama konflik Israel-Palestina. Namun, tampaknya akan terasa sulit bagi Indonesia untuk memperjuangkan Palestina apabila Indonesia tidak memiliki hubungan apapun dengan Israel. Mungkin pemerintah kita hanya menekan pemerintah Amerika Serikat dan negara-negara barat lainnya, serta menggalang dukungan dengan negara-negara lain di dunia. Namun, ketika apa yang menjadi tujuan tersebut tidak tersampaikan secara langsung, maka mungkin menjadi agak kurang tepat sasarannya. Ibarat kita bermaksud mengingatkan tetangga kita akan kesalahannya tetapi saat itu kita sedang jothakan atau diam-diaman dengan tetangga kita, maka tidak akan tersampaikan maksud baik kita.

Pada waktu Gus Dur menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, mencuat wacana dibukanya hubungan dagang dengan Israel. Tidak serta merta merta tanpa syarat, Almarhum Gus Dur waktu itu memberikan syarat agar Indonesia dilibatkan dalam proses perdamaian di Timur Tengah. Sehingga, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia akan didengar di ranah internasional. Selain itu dalam hal hubungan diplomatik, Gus Dur juga menyampaikan bahwa Indonesia tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel sebelum bangsa Palestian memperoleh kemerdekaanya dimana definisi kemerdekaan tersebut adalah berdirinya negara Palestina yang beribukota di Jerusalem, serta dikembalikannya seluruh wilayah Arab yang diduduki Israel termasuk Dataran Tinggi Golan dan dibebaskannya tawanan Palestina oleh Israel (dari sumber media arus utama). Gus Dur adalah seorang visioner dan cerdas dalam memanfaatkan celah diplomasi konflik di Timur Tengah. Menurut Greg Barton dalam buku "Biografi Gus Dur", Gus Dur percaya untuk menjadikan Indonesia dapat memperoleh kematangan sebagai suatu bangsa, ia harus berani menghadapi musuh-musuh imajiner itu dan mengganti kecurigaan dengan persahabatan dan dialog.

Menilik dari pemikiran Gus Dur, menurut hemat penulis, diskusi jangka panjang dan dialog-dialog bermutu antara Indonesia-Israel-Palestina sangat diperlukan. Bahkan apabila organisasi keagamaan tertua dan terbesar di Indonesia seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah mengadakan atau terlibat dalam suatu diskusi dan dialog tersebut, InsyaAllah konflik Israel-Palestina dapat diredam, dan berdirinya negara Palestina beribukota di Jerusalem. Namun, tampaknya fobia akan profil Israel dan Israel sebagai musuh imajiner bangsa Indonesia membuat banyak dari kita tidak berpikir panjang dan kritis, sehingga mungkin akan menyebabkan sulit terlaksananya suatu dialog dan diskusi, apalagi parahnya banyak yang menghukumi bahwa siapapun yang berdiskusi dengan Israel maka akan menjadi antek Israel dan kontra dengan perjuangan bangsa Palestina. Kondisi ini akan membuat konflik yang berlarut-larut dengan pelanggaran HAM berat terus berulang.

Penulis sangat memimpikan terciptanya perdamaian di Timur Tengah dan dunia yang didasari semangat dialog dan persahabatan.

Salam,
Penulis


Referensi :
http://www.nu.or.id/post/read/75243/manuver-gus-dur-mengimbangi-israel-
https://nasional.kompas.com/read/2016/03/30/08121201/Hubungan.Indonesia-Israel.Polemik.Menghangat.di.Awal.Pemerintahan.Gus.Dur
Harian Kompas 26 Oktober 1999


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Photo Story : Mess Pelepas Penat

Kota Jakarta dan penyangganya merupakan magnet bagi pekerja-pekerja dari daerah, dimana kota Jakarta dan sekitarnya dianggap sebagai pusat utama perekonomian yang mampu memberikan kehidupan yang lebih baik sesuai harapan para pekerja tersebut. Meskipun terkadang harapan harus dilalui dengan aktivitas yang melelahkan, mereka tetap berhasrat mencapai harapan tersebut. Di sela padatnya aktivitas yang melelahkan, selalu terselip waktu rehat dan senda gurau untuk melepas penat. Seperti yang dialami oleh sejumlah pekerja asal Wonogiri, Jawa Tengah yang bekerja di sebuah salon hewan di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan ini.  Waktu sebelum dan sesudah maghrib merupakan waktu yang penting bagi mereka, dimana di waktu ini, kegiatan melepas penat atau istirahat, mandi, sholat dan makan malam dilakukan sebelum beberapa dari mereka kembali bekerja. Semua kegiatan tersebut dilakukan di sebuah  mess yang disediakan oleh pemilik usaha. Mess tersebut menjadi pilihan untuk tinggal dite...

Berpikir Terbuka Ala Fotografer Fotografi Jalanan (Street Photography)

"Lha kok jaman semakin maju, tapi pikiran banyak yang nyempit ya", begitulah kira-kira ungkap seorang rekan beberapa bulan lalu.  "Kurang piknik", barangkali ungkapan anak muda jaman sekarang yang pantas untuk menyikapi kondisi saat ini, yang sedang menjangkiti manusia-manusia Indonesia, baik tua maupun muda. Namun, menurut hemat penulis, bukanlah "kurang piknik", ungkapan yang tepat dalam menyikapi kondisi tersebut, karena mungkin mereka-mereka yang berpikir menyempit justru lebih sering "piknik" daripada mereka-mereka yang berpikir meluas. Menurut hemat penulis, ungkapan yang tepat adalah kurangnya keinginan berpikir kritis dan ketidakmampuan atau pun kurangnya keinginan berpikir terbuka. Mereka yang pemikirannya menyempit biasanya ditandai oleh gejala mudahnya menerima suatu kabar burung yang entah kebenarannya dan akan meyakininya sampai sepenuh hati, bahkan akan dimanisfestasikan ke dalam tata perilakunya sehari-hari. Biasanya mereka-mer...